Kamis, 01 Januari 2015

Berbagi Cerita Seputar Kehidupan Wong Cilik

Berbagi Cerita Seputar Kehidupan Wong Cilik | Hari ini hari kedua awal tahun baru 2015. Resolusi di tahun baru 2015 ini sudah dibuat. Hingar bingar suara kembang api jedar jeder sudah usai. Tahun ini tidak semeriah tahun lalu meskipum kondisi negara ini masih sama. Apa itu ? Ya kondisi kehidupan ekonomi yang belum stabil terutama di kehidupan masyarakat umumnya, rakyat kebanyak atau istilah orang Jawa Wong Cilik. Kalo golongan menengah di bumi pertiwi yang sering disebut Indonesia tidaklah banyak pengaruh. Paling mereka mengurangi pengeluaran saja seperti saran para ahli perencana keuangan top yang mudah ditemui melalui artikel yang sering mereka tulis baik di media cetak seperti koran, majalah, surat kabar, tabloid maupun media elektronik seperti tips-tips di televisi dan media digital yang bisa diakses melalui internet.

Selain bercerita tentang kehidupan Wong Cilik juga karena di penghujung tahun 2014 ini tepatnya hari-hari terakhir 2014 Indonesia mengalami peristiwa yang sangat mengguncangkan kehidupan masyarakat Indonesia termasuk wong cilik. Pada hari Minggu pagi tanggal 28 Desember 2014 pk 07 lewat dikit pesawat Air Bus maskapai penerbangan Air Asia dengan nomor penerbangan QZ8501 (sampai hapal) rute Surabaya --> Singapura hilang dari pantauan radar pengontrol dan putusnya komunikasi dengan awak pesawat Air Bus Air Asia milik juragan Tony Fernandes warga negara Malaysia tetangga Indonesia (saudara serumpun Melayu) . Setelah dilakukan pencarian akhirnya dalam 2 (dua) hari yaitu tanggal 30 Desember 2014 mulai ada titik terang dengan diketemukannya jenazah korban utuh dan beberapa bagian pesawat seperti pelampung dan pintu darurat, Sedangkan badan pesawat yang super dupeeer buesaaar masih belum diketemukan sampai awal tahun baru 2015 ini (1 Januari 2015).

Akibat kejadian ini Indonesia lebih tepatnya Air Asia berduka yaitu berubahnya warna logo Air Asia yang tadinya berwarna merah menjadi warna abu-abu di gambar profil di media sosial. Untuk menghormati dan menghargai para korban serta turut berbela sungkawa serta empati terhadap keluarga korban baik keluarga korban penumpang pesawat warga Indonesia dan luar negeri (Korea Selatan) maupum keluarga korban dari pilot, co pilot dan pramugari pesawat maka tanpa himbauan resmi hanya inisiatif saja yang tadinya buat memeriahkan pergantian tahun baru 2015 biasanya meluncurkan ke angkasa kembang api dan mercon diganti menjadi menyalakan lilin seperti di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah (cek di peta ya bisa di google map/itung-itung mengulangi kembali pelajaran geografi di sekolah dulu) dan di Nusa Tenggara Timur (ada penduduk dari kepulauan Alor NTT yang menjadi penumpang di pesawat Air Asia QZ 8501 tersebut. Indonesia Bhinneka Tunggal Ika, satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa.

Pemimpin kota Bandung Bapak Ridwan Kamil membatalkan pesta kembang api di kota Bandung yang sudah dipersiapkan sebelumnya sebagai wujud empati terhadap para korban di pesawat Air Bus Air Asia QZ 8501. Begitupun Walikota Surabaya Ibu Risma tidak terlalu mengurusi malam pergantian tahun baru. Bahkan beliau dari mulai diberitakan di media-media hilangnya kontak dengan pesawat Air Asia QZ 8501 segera berada di bandara Juanda (Sidoarjo - 20 km sebelah selatan kota Surabaya) untuk mendampingi keluarga para korban penumpang pesawat Air Asia QZ 8501.

Bagaimana dengan Jakarta? Sebagai kota megapolitan yang dihuni beragam suku, bangsa dan budaya belum mengikuti sepenuhnya rasa duka yang mendalam seperti di daerah lain. Kembang api masih ada diluncurkan. Memang jauh berkurang bisa jadi karena sebagian warga yang tinggal Jakarta terseret berita duka atas musibah pesawat Air Asia QZ 8501, tanah longsor di Banjarnegara Jawa Tengah, banjir di Bandung Selatan. Gubernur DKI, Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) kurang sigap menyerukan ikut berempati terhadap bencana yang menimpa Indonesia diakhir penghujung tahun 2014. Padahal dengan adanya Jakarta Night Festival sebagai pesta rakyat atau Wong Cilik merupakan momen yang paling tepat disaat tutup tahun 2014. Hanya telihat di media sosial keprihatinan ini

Inilah sekelumit dari Berbagi Cerita Seputar Kehidupan Wong Cilik di bumi Jawadwipa yang bernama Indonesia. Akhir kata, saya turut menyampaikan duka cita yang mendalam atas kejadian-kejadian yang menimpa rakyat Indonesia di tahun 2014 kemarin terlepas dari sukunya apa, agamnya apa, rasnya apa, golongannya apa, kelas wong cilik, kelas menegah atau kelas atas. Semoga keluarga yang masih hidup dan ditingalkan kuat menatap kehidupan yang akan datang. Yang masih memiliki napas kehidupan lanjutkan tugasnya. Salam Wong Cilik.